Selasa, 12 Juli 2016

Jeda

Tak ada yang ku perbuat
Diamku menang
Kau kembali. Ini nyata.
Menyepakati untuk memulainya lagi
Kembali menjadi kita. lagi.
Semburat jeda mengais serat
Kerap terhampas menerka berlalu
Mengakhiri bukan untuk berhenti
Terkadang kita butuh jeda
menelisik ruang waktu untuk berpikir
untuk tetap pergi atau kembali lagi
Apa yang kau perlukan bukan tentang keinginan ini tentang pilihan
Tak ada jeda lagi, jeda ini usai.
Dan kau
Tanyakan pada sepasang pipimu
Siapkah mereka menerima bibirku?

Selasa, 05 Juli 2016

malam ini

Lontaran karbit kerap menjadi irama malam ini.
Terdengar terhiasi nyata nya pasi.
Hanya menjadi kebahagiaan kecil untuk para penikmatnya.
Rekah lentera hiasan langitnya.
Tak se–semarak kota namun memikat.
Di sini sandangku tengah menilas isi setiap tumpahnya imajinasi.
Pikirku akan malam ini, ocehan ponsel, dan kau yang sedang ku rindukan.
Tak lupa segelas teh dan pena yang menemaniku.
Percayalah ini akan menjadi malam yang panjang.

Sabtu, 02 Juli 2016

ironiku

Juli, 07 2016

Aku mengais hati, mencari diriku yang lalu.
Hampa. Sunyi. Derap tiada berbunyi. Itu hanya suaraku, yang mencoba bertanya— siapa aku ?
Kualihkan deraku, ku tak ingin kau tau. Kupenipu yang handal katamu, jangan tanyakan kenapa diriku lari menyembunyikan luka. Ayolah ini ironiku, kau hanya perlu bahagia bukan selip luka ku yang kau terima, kau pantas bahagia. Kau sudah bebas.