Kamis, 28 Juni 2018

Orang yang Pertama Singgah

[Kau dan Aku, Pernah]

Suatu kali, kita berdua harus berucap jujur bahwa sebelum kita bertemu, aku dan kau pernah mencintai seseorang. Entah sedalam apa perasaan itu, entah seberapa sakit luka yang pernah dimiliki itu. Setidaknya, kita hanya berusaha jujur bahwa satu sama lain memang bukan orang yang pertama singgah di dalam hati.

Aku sempat ragu, apakah sebaiknya kuceritakan padamu? Meski dengan berat hati, dilain sisi aku sebenarnya enggan menanyakan perihal tentangmu, tentang siapa sosok yang dahulu sudah datang sebelumku, juga siapakah seorang asing yang dulu pernah kau puji itu.

Ternyata, kau tak mau kembali menceritakannya, begitupun tak terbit minatmu untuk menanyakan perihalku. Katamu, yang sudah berlalu maka biarlah berlalu. Cerita yang sudah usai tak perlu lagi diumbar. Tak ada faedah, selain hanya akan membuat hati semakin gusar.

Diksi

Tidak perlu kau tutupi lagi.
Kau pandai menyimpan pahit pada matamu,
Kau mahir menyembunyikan kepedulian pada gerak gerikmu melihat sosial medianya.
Kau masih ada debar jika seseorang menyebut namanya.
dan kau masih tak tahu sampai kapan akan bertahan padanya.

Tidak perlu kau tutupi lagi.

Menangislah sampai kau merasa tenang,
Sebab air matamu takkan lagi terasa nyeri
Jika kau tahu,
Cara terbaik mengubah luka ialah menjadi doa.

Pada akhirnya kau hanya butuh didengar
bukan mendengarkan.
Sebab banyak dari kita memberikan saran dan masukan bagi setiap orang yang hatinya patah karena perasaan,
Padahal dalam dirinya sendiri hancur dan berantakan.
Ia adalah yang sebenarnya butuh sekali didengarkan.

29june

Just because I'm moving forward with my life,
it doesn't mean I'll forget you or stop loving you.
You'll always be a part of me.
No matter who I end up with,
I promise you that I will always love you
and you will forever be in my heart.
I will miss you.
I love you forever and always.

-tonight

Minggu, 03 Juni 2018

Dialog Waktu

"Ambara," aku memanggilnya, "kamu percaya dongeng, sihir, atau tokoh yang tak kasat mata?"

Ambara menatapku sambil menjawab;
"Aku percaya. Aku percaya jika ada hantu, aku percaya jika ada Sinterklas, aku percaya Unicorn, percaya juga jika suatu saat bisa mengelus Cacing Besar Alaska atau terbang bersama Pegasus. Aku juga percaya ada hewan lucu hasil persilangan keledai dan naga. Kalau kamu? Kamu percaya akan hal-hal luar biasa yang tak kasat mata?"

Aku terdiam sejenak,
"Ambara, itu semua cuma mitos."

Ia tak puas dengan jawabanku dan kembali bertanya, "Tapi kenapa?"

"Di hidupnya, laki-laki itu terbagi menjadi tiga tahap. Pertama, saat ia percaya Sinterklas. Kedua, saat ia tidak percaya Sinterklas. Dan yang ketiga, saat ia menjadi Sinterklas," mata Ambara membulat, benar-benar menyimak segala perkataanku.

Dengan menghela napas, aku melanjutkan
"Jadi, sebentar lagi aku sudah akan menjadi Sinterklas."

"Tapi kenapa, Kawa?"

Ambara mulai menyebalkan, aku meliriknya sinis sambil menyembunyikan senyum yang memaksa ingin timbul. Cepat-cepat kepalanya menunduk, mungkin takut. Dalam hati aku melanjutkan menjawab,

"Aku ingin menjadi Sinterklas, menjadi seorang yang kamu percaya."

Itu saja.