[Virtual Hug]
I wish I could
cuddle with you
and inhale your scent,
pressing your body against
mine, instead of sending these
hugging stickers to your chat room.
─casseiraheavenly,
You never replied my hugs, anyway.
[Virtual Hug]
I wish I could
cuddle with you
and inhale your scent,
pressing your body against
mine, instead of sending these
hugging stickers to your chat room.
─casseiraheavenly,
You never replied my hugs, anyway.
I don’t know which one is worse:
the fact that you might not love me
anymore, or the fact that you might
never have.
Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
Ku aman ada bersama mu
Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu
Badai Puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap taufan menyerang
Kau di sampingku
Kau aman ada bersama ku
Aku ingin pergi di mana ruang dan waktu tak bertepi.
Di mana rindu tak sendiri,
dan air mata tak harus di bawah kanopi.
Aku ingin pergi ke tempat di mana aku bertemu denganmu lagi;
Di mana aku bisa memilikimu sekali lagi,
dan kamu tidak perlu pergi.
ㅡreichienbach,
tentang ruang, waktu, dan kita.
Kau sendiri tahu bahwa aku terluka saat kau datang, lalu kau bilang akan menyembuhkanku.
Kau sendiri bilang padaku bahwa kau akan mengusir tangisku dan segera menggantinya dengan tawa dari hiburan-hiburan kecil yang kaubuat.
Kau sendiri tahu ketika seluruh hal di dunia menjatuhkanku dan kau bilang akan menarik tanganku.
Juga janjimu akan tetap tinggal di sisiku ketika mereka semua pergi meninggalkanku.
Namun kini,
siapa lagi yang harus kupercaya ketika kau juga melupakan kata-katamu sendiri?
[Sebulan lalu]
Diam adalah cara membunuh paling baik.
Kau sepertinya mulai menggunakan senjata itu untuk menghabisiku.
Kau tidak peduli dirimu dan tidak peduli apapun yang terasa di dadaku.
Kau kecewa, katamu.
Tak ada yang bisa memulihkan itu.
Kau tidak tahu, aku bahkan lebih suka kau ajak berdebat, kau marahi, meski akhirnya kau pergi juga.
Daripada kau diam dan hilang tanpa aku paham apa yang sebenarnya terjadi di antara kita.
“Setelah kamu pergi, semua tidak sama lagi.
Saya tetap menjalani rutinitas dengan berusaha biasa saja,
Berusaha mengabaikan kenangan tentangmu yang muncul sesukanya,
Tidak, saya tidak kehilangan kendali,
Tapi tetap ada yang berbeda setelah kamu tinggal saya sendiri
Kisah cinta denganmu memang tidak sempurna,
percayalah,
melupakanmu adalah hal sukar luar biasa.
Setengah dari perpisahan adalah berharap akan rekonsiliasi hubungan.
Kamu, saya, dan kesempatan kedua.
Setengah perpisahan yang lainnya adalah berpura-pura telah lupa.
Berpura-pura sudah bahagia.
Hal itu menguras banyak tenaga.
Akan tiba saat dimana saya sudah tidak terlalu mengharapkan pulangmu,
sampai sekarang saya masih berdoa agar waktu itu lekas datang.
Setelah kehilanganmu,
Saya tidak tahu harus berbuat apa.
Menyibukan diri,
membuat raga lelah sebisanya.
Hingga tengah malam dan sepi merayapi,
dan saya hancur ditikam sesal seketika.
Sekali lagi.”