Minggu, 26 November 2017

Sunyi Berbunyi

Kadang aku seperti belum rela jika tak ada lagi cerita kita.
Berpura baik-baik saja dan tersenyum saat orang bertanya kamu kemana? kenapa aku sendiri saja?
Tak ada lagi kamu yang selalu mengingatkanku ini dan itu.
Tak ada lagi pesan dan panggilan sebagai notifikasi favoritku.

Aku masih saja suka membaca pesan lama kita.
Aku bahkan mengingat letak titik dan koma hingga di luar kepala.
Aku bahkan akan sedikit tersenyum saat mengingat bahwa kita pernah begitu dekat.
Bahwa aku dan kamu pernah saling menyayangi dengan sangat.

Lalu tiba-tiba semua itu hilang. Kita menjadi seperti dua orang asing yang belum pernah berbincang.
Untuk menanyakan kabarmu saja terasa sungkan.
Padahal dulu sangat menyebalkan jika kamu mengabaikan pesanku.

Ah, tulisan ini jangan kamu anggap pelampiasan bahwa aku ingin kamu kembali padaku.
Aku hanya ingin menuliskan jika suatu saat nanti rasa itu datang kembali — perasaan rindu.

Dan aku memilih masih menceritakan tentangmu dalam tulisan-tulisan ini, sebab hanya di sini aku tak akan pernah kehilanganmu lagi.

Jumat, 24 November 2017

Kalau Sekarang Kamu Di Sini

Bagian tulisan ini dibuat saat aku berdiri di eskalator. Dengan barang belanjaan dalam kantong-katong plastik pada troli, siku tanganku pada pegangan kendali, dan jempolku menekan tombol huruf ke sana ke mari.

Dari segala barang yang dijajakan pada toko di kanan kiri, belum ada yang mampu mencuri perhatianku, menuliskanmu tetap menjadi hal yang lebih seru.

Kalau sekarang kamu di sini, mungkin aku tidak memakai troli. Kita akan berbagi kantong belanja, membawanya sambil berceloteh ria. Mungkin sebelah tanganku akan menggandengmu atau bisa saja tangan kita begitu dekat tetapi malu-malu.

Saat menuliskan kalimat ini, sebetulnya aku berniat menyimpan ponselku dalam saku. Sebab daritadi menuliskanmu membuatku tersipu. Jatuh cinta itu ternyata lebih menghantui jika dibanding dengan ibu kos yang sedang menagih. Gagasan tentangmu muncul dalam berbagai hal, gagasan tentangmu tak berkesudahan.

Ngomong-ngomong, aku sudah sampai parkiran. Troli sedang aku susun dalam barisan. Satu kantong belanjaku aku impit dengan tangan dan dada, agar tangan kiriku bebas menuliskan cerita tentangmu.

Barusan aku melihat seorang petugas keamanan, dia membantuku menyebrang jalan. Mungkin jika kamu di sini, kamu akan menarik tanganku agar berjalan lebih cepat lagi seraya berbisikn

"Ayo, ayo, hati-hati."

Kamu manis sekali.
Imajinasi tentangmu tak kunjung pergi meski sekarang aku sedang menata barang dalam tas.

Pengedar Diksi

Perempuan itu bukan orang yang pandai melupakan.

Saat hatinya terluka, ia selalu mengingat siapa penyebabnya.

Ketika ia rindu, ia akan tahu kepada siapa rindunya.

Saat pergi ke tempat yang dulu ia habiskan waktu berdua dengannya,
ia ingat betul satu nama di hatinya.

Saat di tempat makan, ia ingat makanan kesukaan seseorang yang dulu bersamanya.

Ketika melihat orang lain memakai pakaian yang sama dengan lelaki yang pernah ia cintai, sudah pasti isi kepalanya kembali mengingatnya lagi.

Saat membuka percakapan lama,
matanya akan berkaca kaca,

Dan ketika memegang barang pemberian darinya, ada air mata yang jatuh dengan sendirinya.

Kamis, 23 November 2017

Aku Datang Lagi ke Tempat Ini


Aku berusaha tergelak. Berusaha tertawa keras-keras biar kalau ada air mata yang jatuh bisa untuk alasan jatuhnya karena tertawa.

"Sini peluk," katamu. Dan benar, pelukanmu selalu bisa menenangkan aku.
"Aku bakal kangen banget." Kamu berbisik tepat di telingaku, sambil mengacak pelan rambutku dengan ibu jarimu.

"Hei, jangan nangis." Kamu menyeka air mataku dengan jari-jarimu. Aku menggelengkan kepala. Aku tak menyukai suasana seperti ini.
"Aku masih mau sama kamu, aku nggak mau pulang".

Sekali lagi kita berpelukan  di tengah keramaian.
Lalu aku berjalan, kamu semakin jauh. Aku mau lihat kamu melambaikan tangan, sampai benar-benar hilang dari pandangan.
Rasanya dadaku untuk bernafas saja sesak sekali.

Aku datang lagi ke tempat ini.

Bedanya adalah tak ada lagi kamu di sini.
Aku sendirian. Sekeras apapun tangisanku, sekuat apapun aku menahan dingin malam, tak ada lagi kamu.

Tak - ada - lagi - kamu.

Aku memang tak menyukai suasana perpisahan seperti waktu itu. Tapi aku lebih tak menyukai seperti sekarang. Kalaupun kita berpisah, tak apa. Paling tidak, aku masih bisa melihat kamu dari mana saja.

November

Don't tell me that you miss me.

Don’t tell me all the things I wanted to hear so long ago. That’s not fair to me.

If that moment hits you where you realize you do still love me I ask you not to say it.

Because the truth is I still love you.

And our song that used to make me smile makes me cry.

The truth is I’m still hurt.

The truth is I still find myself going back because with you I saw what I thought was a clear future.

The truth is I still go back to our spot sometimes and hope you’re there waiting.

The truth is I lay there awake regretting a lot of things too.

So I ask you not to miss me.

I ask you not to say it.

I ask you if you love me, keep it to yourself.

I’ve been forced to be a lot stronger than I actually am.

I’ve been forced to put up this front like your absence in my life didn’t crush me when you left.

I ask you not to say anything or ask if I miss you too.

Because with you the answer will always be yes.

Selasa, 21 November 2017

Nanti Kau Akan Rindu

Nanti kau akan rindu posisi yang pernah aku tempati.
Betapa perhatiannya aku,
betapa polosnya aku,
betapa sabarnya aku menghadapi semua perlakuanmu itu.
Nanti kau akan menyesal sudah memilih pergi.
Karena kau sadar,
cinta yang baru tidak lebih baik dari aku.

Pergi Itu Bukan Pilihan

Pergi itu bukan pilihan,
tetapi niatan.
Sebab, pada saat kau memutuskan untuk bertahan.
Aku tahu itu hanya karena egomu.
Padahal yang kau katakan dulu,
aku yang ingin kau bahagiakan, bukan?