Sabtu, 15 Oktober 2016

Buang saja

Lalu untuk apa kau buang-buang tenangamu untuk tangis ?
Jika benar diriku lelah aku tak takut akan pasrah.
Aku tak takut untuk pergi jika yang kau butuhkan hanya sendiri.
Kau butuh aku pergi maka aku akan melangkah.

Makilah aku akan diam.
Jika kau kecewa percayalah aku lebih perih.
Buang saja aku tak akan takut,
ini untuk mu jika kau lebih enggan menahanku.

Aku hanya akan rindu ketika kau tersenyum ayah.

Jangan dicari aku lebih nyaman kau tak peduli.
Jangan bicara padaku, aku tahu lontaranmu akan berubah lantang.
Jangan dilihat aku lebih suka kau acuh.
Kau tak perlu bersusah payah khawatir pada bebanmu ini.
Hidup lah dengan sehat  dan bahagia, aku punya janji pada Tuhan ketika aku berserah.

161016

Sabtu, 24 September 2016

Menulislah

Ketika tak ada lagi yang bisa mengerti dirimu.
Bukan karena kamu sulit untuk dimengerti,
tapi memang kamu tak mengizinkan seorangpun untuk membaca pikiranmu,
hanya karena kamu tak percaya pada manusia manapun.
Maka dengan itu, menulislah.
Izinkan semesta untuk mengerti dirimu.
Karena janji yang tak pernah ingkar adalah matahari terbit.


Sidoarjo, 25 September.

Senin, 12 September 2016

Takdir

Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa basi menyapa pun tidak. Tidak peduli.

Sepertinya menyenangkan menjadi takdir:)

Sabtu, 10 September 2016

Engkau Seorang Penulis

Pada hakekatnya Engkau adalah penulis buku "catatan amalmu" yang akan diterbitkan pada hari kiamat, maka pilihlah kata-kata dan kalimat-kalimat yang terbaik untuk digoreskan dalam buku karyamu tersebut.

10 September 16

Selasa, 30 Agustus 2016

Beban

Lantaran keadaan seperti ini.
Terkadang, berbagi bukanlah satu-satunya jalan untuk meringankan beban.
Kesunyian bisa merapikan tiras-tiras yang terkikis waktu.
Seperti lukaku; kamu tidak perlu tahu.
Biarkan waktu yang perlahan menepis semu.
Dan aku yang ingin sembunyi ini— biar sembuh sendiri.

Jumat, 05 Agustus 2016

Aku berhenti cemburu

Jika Tuhan menukar posisi kita,
mungkin kau juga akan merasa gelisah setiap kali rasa ini menyapa.

Aku berhenti khawatir
Aku berhenti cemburu
Aku berhenti bertanya
Sampai kau mengerti artinya menghargai

Ini bukan karena ku acuh padamu.

Kau ajariku menjadi baik sebaiknya baik
Ku bukan bocah lagi ulasmu.
Dan ketika ku berhenti,
yakinku melebihi batas,
kuyakin,
kau pun mampu menghargaiku.

05 Agustus

Selasa, 02 Agustus 2016

Bosan bertemu manusia

02 Agustus 21:35

Aku ingin bertemu sepi
bersahabat dengan sepi
atau hanya bersama kamu
Aku lelah bertemu manusia

Aku lelah bertemu manusia
menghadapi kompromi
juga melakukan kompromi
mengkhianati kejujuran nurani

aku ingin bercengkrama dengan angin
berbicara soal telaga, langit, awan, gurun dan pantai
aku ingin berkelana bersama angin
berdua saja
karena aku bosan bertemu manusia…

Selasa, 12 Juli 2016

Jeda

Tak ada yang ku perbuat
Diamku menang
Kau kembali. Ini nyata.
Menyepakati untuk memulainya lagi
Kembali menjadi kita. lagi.
Semburat jeda mengais serat
Kerap terhampas menerka berlalu
Mengakhiri bukan untuk berhenti
Terkadang kita butuh jeda
menelisik ruang waktu untuk berpikir
untuk tetap pergi atau kembali lagi
Apa yang kau perlukan bukan tentang keinginan ini tentang pilihan
Tak ada jeda lagi, jeda ini usai.
Dan kau
Tanyakan pada sepasang pipimu
Siapkah mereka menerima bibirku?

Selasa, 05 Juli 2016

malam ini

Lontaran karbit kerap menjadi irama malam ini.
Terdengar terhiasi nyata nya pasi.
Hanya menjadi kebahagiaan kecil untuk para penikmatnya.
Rekah lentera hiasan langitnya.
Tak se–semarak kota namun memikat.
Di sini sandangku tengah menilas isi setiap tumpahnya imajinasi.
Pikirku akan malam ini, ocehan ponsel, dan kau yang sedang ku rindukan.
Tak lupa segelas teh dan pena yang menemaniku.
Percayalah ini akan menjadi malam yang panjang.

Sabtu, 02 Juli 2016

ironiku

Juli, 07 2016

Aku mengais hati, mencari diriku yang lalu.
Hampa. Sunyi. Derap tiada berbunyi. Itu hanya suaraku, yang mencoba bertanya— siapa aku ?
Kualihkan deraku, ku tak ingin kau tau. Kupenipu yang handal katamu, jangan tanyakan kenapa diriku lari menyembunyikan luka. Ayolah ini ironiku, kau hanya perlu bahagia bukan selip luka ku yang kau terima, kau pantas bahagia. Kau sudah bebas.

Selasa, 28 Juni 2016

Pertanda

13:04

Lagipula kita terbiasa diam, meski hari demi hari makin lebam.
Meskipun nyatanya kita semakin tersiksa.
Padahal kita belum sepakat memasungnya dalam cekat.
Hanya ada kita, yang munkin tak lagi dalam kata.
Hanya ada luka, dalam sepihak.
Aku ingin sekali lagi dalam pelukanmu.
Lantas apa yang paling disembunyikan oleh waktu? Selain tentang bagaimana kita kemudian, pantaskah kita mendapat lebih ketika jawabannya sendiri telah lebih dulu kita tahu.
Aku lelah merindumu dalam diam.
Dan aku merayakan perpisahan ini dengan air mata, pertanda bahwa aku telah siap melepas semua

Tentang nensi

Kau tau aku yang banyak bicara ini tak pernah kunjung lengah untuk berbicara. Aku suka menulis sekedar hobi belaka. Agar aku yang banyak bicara ini tak lagi terdengar olehmu.

Nensi Rahmadany. Lahir di Pacitan, 17 Desember. Penyuka hal-hal baru, melukis, dunia angkasa, lautan dalam, takut akan sesuatu yang sebenarnya tak perlu ditakuti yah itu roh, roh pemburu yang sering menjadi musuh lelapku, delima akan mitos.

Mari berteman baik
Bertukar kisah
Memberi saran
E-mail : nensrhmdny17@gmail.com