Selasa, 28 Juni 2016

Pertanda

13:04

Lagipula kita terbiasa diam, meski hari demi hari makin lebam.
Meskipun nyatanya kita semakin tersiksa.
Padahal kita belum sepakat memasungnya dalam cekat.
Hanya ada kita, yang munkin tak lagi dalam kata.
Hanya ada luka, dalam sepihak.
Aku ingin sekali lagi dalam pelukanmu.
Lantas apa yang paling disembunyikan oleh waktu? Selain tentang bagaimana kita kemudian, pantaskah kita mendapat lebih ketika jawabannya sendiri telah lebih dulu kita tahu.
Aku lelah merindumu dalam diam.
Dan aku merayakan perpisahan ini dengan air mata, pertanda bahwa aku telah siap melepas semua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar