[Kau dan Aku, Pernah]
Suatu kali, kita berdua harus berucap jujur bahwa sebelum kita bertemu, aku dan kau pernah mencintai seseorang. Entah sedalam apa perasaan itu, entah seberapa sakit luka yang pernah dimiliki itu. Setidaknya, kita hanya berusaha jujur bahwa satu sama lain memang bukan orang yang pertama singgah di dalam hati.
Aku sempat ragu, apakah sebaiknya kuceritakan padamu? Meski dengan berat hati, dilain sisi aku sebenarnya enggan menanyakan perihal tentangmu, tentang siapa sosok yang dahulu sudah datang sebelumku, juga siapakah seorang asing yang dulu pernah kau puji itu.
Ternyata, kau tak mau kembali menceritakannya, begitupun tak terbit minatmu untuk menanyakan perihalku. Katamu, yang sudah berlalu maka biarlah berlalu. Cerita yang sudah usai tak perlu lagi diumbar. Tak ada faedah, selain hanya akan membuat hati semakin gusar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar