"Ambara," aku memanggilnya, "kamu percaya dongeng, sihir, atau tokoh yang tak kasat mata?"
Ambara menatapku sambil menjawab;
"Aku percaya. Aku percaya jika ada hantu, aku percaya jika ada Sinterklas, aku percaya Unicorn, percaya juga jika suatu saat bisa mengelus Cacing Besar Alaska atau terbang bersama Pegasus. Aku juga percaya ada hewan lucu hasil persilangan keledai dan naga. Kalau kamu? Kamu percaya akan hal-hal luar biasa yang tak kasat mata?"
Aku terdiam sejenak,
"Ambara, itu semua cuma mitos."
Ia tak puas dengan jawabanku dan kembali bertanya, "Tapi kenapa?"
"Di hidupnya, laki-laki itu terbagi menjadi tiga tahap. Pertama, saat ia percaya Sinterklas. Kedua, saat ia tidak percaya Sinterklas. Dan yang ketiga, saat ia menjadi Sinterklas," mata Ambara membulat, benar-benar menyimak segala perkataanku.
Dengan menghela napas, aku melanjutkan
"Jadi, sebentar lagi aku sudah akan menjadi Sinterklas."
"Tapi kenapa, Kawa?"
Ambara mulai menyebalkan, aku meliriknya sinis sambil menyembunyikan senyum yang memaksa ingin timbul. Cepat-cepat kepalanya menunduk, mungkin takut. Dalam hati aku melanjutkan menjawab,
"Aku ingin menjadi Sinterklas, menjadi seorang yang kamu percaya."
Itu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar